Background

Berita Terbaru

RELI MINYAK TERHENTI KARENA PEMBICARAAN OPEC

05071833 IQPlus, (16/04) - Harga minyak dunia menghentikan reli mereka pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), dengan kedua acuan turun hampir satu persen, setelah Menteri Keuangan Rusia mengatakan bahwa Rusia dan OPEC dapat memutuskan untuk meningkatkan produksi guna bersaing memperebutkan lebih banyak pangsa pasar dengan Amerika Serikat, di mana produksinya tetap pada rekor tertinggi. Namun, penurunan harga-harga minyak dibatasi oleh pengetatan pasokan global, karena produksi telah turun di Iran dan Venezuela di tengah tanda-tanda Amerika Serikat (AS) akan semakin memperketat sanksi-sanksi terhadap dua produsen OPEC itu, dan di tengah ancaman bahwa pertempuran baru dapat menghapuskan produksi minyak mentah di Libya. Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni turun 0,37 dolar AS atau 0,5 persen, menjadi ditutup pada 71,18 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange, setelah sebelumnya turun di bawah 71 dolar AS per barel. Brent mencapai level tertinggi sejak 12 November pada Jumat (12/4/2019) di 71,87 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei turun 0,49 dolar AS atau 0,8 persen, menjadi menetap pada 63,40 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Harga minyak telah naik lebih dari 30 persen tahun ini, terutama karena kesepakatan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia, yang dikenal sebagai OPEC+, untuk mengekang 1,2 juta barel per hari mulai 1 Januari selama enam bulan. Kelompok ini akan bertemu pada Juni untuk memutuskan apakah akan melanjutkan menahan pasokan. Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov mengatakan pada akhir pekan bahwa Rusia dan OPEC dapat memutuskan untuk meningkatkan produksi guna memperjuangkan lebih banyak pangsa pasar dari Amerika Serikat, tetapi ini akan mendorong harga minyak ke serendah 40 dolar AS per barel. "Ada dilema. Apa yang harus kita lakukan dengan OPEC: haruskah kita kehilangan pasar, yang sedang diduduki oleh Amerika, atau keluar dari kesepakatan?" Siluanov, yang berbicara di Washington, mengatakan, seperti dikutip kantor berita TASS.(end)