Background

Berita Terbaru

FAISAL BASRI : POLA KONSUMSI MULAI BERGESER

42093337 IQPlus, (12/02) - Pengamat ekonomi Faisal Basri mengatakan mulai tampak tanda-tanda pergeseran pola konsumsi. Belanja untuk pakaian & alas kaki serta perumahan & perlengkapan rumah tangga tumbuh melambat, relatif jauh di bawah belanja rumah tangga secara total. "Sebaliknya, pengeluaran untuk restoran & hotel serta transportasi & komunikasi menunjukkan tren peningkatan dan lebih tinggi dari pertumbuhan belanja total. Generasi milenial menjadi penggerak perubahan ini," kata Faisal, seperti dikutip Selasa. Dengan semakin tinggi tingkat pendapatan, lanjutnya, lazimnya porsi pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan juga akan meningkat. Yang terakhir ini belum mewarnai pola konsumsi rumah tangga Indonesia. Pola pertumbuhan konsumsi rumah tangga Indonesia cukup unik, tambahnya, sangat stabil pada sekitar lima persenan. "Berbeda dengan negara-negara tetangga yang pertumbuhan konsumsi rumah tangganya sangat berfluktuasi, kadang naik dua digit dan jarang turun di bawah lima persen," ungkapnya. Di sisi lain, ia menambahkan, awal tahun ini Hero Supermarket menutup 26 gerai dan merumahkan 532 karyawannya. Boleh jadi manajemen Hero sedang berbenah, mengubah model bisnisnya sejalan dengan perubahan masyarakat dalam cara berbelanja dan pola konsumsi. Sebelumnya, telah banyak pula department store yang sudah ditutup. Faisal melihat kondisi itu bukan karena penurunan daya beli masyarakat yang menjadi penyebabnya. Pasalnya konsumsi rumah tangga tidak menurun, malahan tumbuh sedikit lebih tinggi pada 2018. Adalah pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan ekonomi. Dirinya menjelaskan salah satu kemungkinan mengapa pertumbuhan konsumsi rumah tangga Indonesia seperti itu adalah karena penduduk Indonesia kebanyakan berpendapatan rendah dan menengah-bawah. Hal ini tercermin dari masih dominannya konsumsi untuk makanan dan minuman selain restoran, bahkan masih cenderung naik. "Pada 2010 porsinya 38,5 persen, lalu naik menjadi 39,1 persen pada 2018. Sejak 2015 pertumbuhan konsumsi makanan dan minuman selain restoran selalu lebih tinggi dari pertumbuhan keseluruhan konsumsi rumah tangga," pungkasnya. (end/ba)